Fenomena Riya

 pujian manusia? Membiasakan introspeksi diri sebelum memposting dapat membantu kita menjaga niat tetap murni.


Penting juga untuk menumbuhkan kesadaran akan niat kita setiap kali berbagi aktivitas ibadah di dunia maya. Salah satu cara efektif adalah dengan memperkuat niat dan mengingatkan diri sendiri bahwa tujuan utama dari ibadah adalah mendapatkan keridhaan Allah, bukan pujian dari manusia. Dengan begitu, kita dapat menjaga keikhlasan dalam beribadah meski berada di era digital.


Pandangan ulama mengenai fenomena riya digital juga penting untuk dipertimbangkan. Banyak ulama mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam mempublikasikan amal ibadah di media sosial. Mereka menekankan bahwa ikhlas adalah kunci utama agar amal diterima oleh Allah. Beberapa ulama bahkan menganjurkan untuk merahasiakan sebagian amal ibadah kita sebagai upaya untuk menghindari riya.


Penting bagi kita untuk mengembalikan esensi ibadah yang murni hanya untuk Allah. Seberapapun canggihnya teknologi dan media sosial, niat kita tetap harus bersandar pada keikhlasan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:


“وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ”


“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah)” (QS. Al-Bayyinah: 5).


sumber:https://www.aswajadewata.com/riya-digital-dan-cara-menghindarinya/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Guru di Internet: Sanad Keilmuan di Era Google

Merasa Diawasi Allah

Mencari Keberkahan Waktu di Tengah Screen Time