Postingan

Memilih Guru di Internet: Sanad Keilmuan di Era Google

Gambar
  Seiring dengan berkembang pesatnya era digital, dakwah mulai memanfaatkan keterbukaan internet melalui platform media sosialnya seperti Youtube, Telegram dan WhatsApp. Tak heran jika pendakwah-pendakwah baru di era kekinian ada yang terbiasa disebut ‘ustadz medsos’. Salah satu hal yang menarik dari para ustadz medsos ini adalah topik ceramah mereka yang aktual, ringan, bahkan beberapa di antaranya menggunakan teknik bercerita tentang masa lalunya sebagai pendosa, mantan pendeta, mantan napi atau cerita-cerita kelam lainnya yang bisa menimbulkan motivasi bagi pendengarnya. Sedangkan para pendakwah serius, ketika membahas sesuatu, mereka akan panjang lebar dan memasukkan berbagai pandangan ulama empat madzhab di dalamnya. Sementara ustadz-ustadz medsos biasanya akan langsung menembak pada satu kesimpulan disertai ayat al-Quran dan Hadits Nabi. Problematika yang cukup vital adalah terkait ketersambungan sanad ilmu dari para ustadz medsos tersebut. Tidak jarang kita temui pernyataan ...

Merasa Diawasi Allah

Gambar
  Merasa Diawasi Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 30 Sya’ban 1445 H / 11 Maret 2024 M. Kajian Islam Ilmiah Tentang Merasa Diawasi Allah Ibnu Hibban Rahimahullah meriwayatkan dalam shahihnya juga Adh Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Kitab Al-Mukhtarah, dari sahabat Usamah bin Syarik Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, مَا كَرِهَ اللَّهُ مِنْكَ شَيْئًا، فَلَا تَفْعَلْهُ إِذَا خَلَوْتَ “Apa yang Allah benci darimu, maka janganlah engkau lakukan ketika engkau sendirian.” (HR. Ibnu Hibban) Ini adalah peringatan bagi seorang hamba agar ia selalu memperbaiki apa yang ia sembunyikan dengan cara selalu bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengerjakan semua yang diperintahkan dan menjauhi semua yang dilarang, terutama yaitu meninggalkan perkara yan...

Self-Healing Terbaik: Kembali ke Al-Qur’an, Bukan Sekadar Scrolling

Gambar
  Self Healing With Qur'an Buku ini terdiri dari enam bab yaitu Laa Tahzan, Laa Tabkii, Laa Takhaf, Laa Tahgdab, Laa Taias, dan bab terakhir yaitu Self Healing With Qur'an. Setiap bab di buka dengan sebuah sirah atau kisah dari Rasulullah dan sahabat-sahabatnya yang mampu menggugah jiwa. Laa Tahzan ~ Jangan Sedih Dalam bab ini kita dibawa untuk larut dalam kalimat demi kalimat motivasi yang membangun untuk "tidak bersedih" dengan setiap kisah pelik yang sedang kita derita, sebab kita memang manusia harus siap dengan semua hal yang kadang membuat hati menjadi sedikit galau dan terasa sempit, baik itu karena masalah jodoh yang tak kunjung terlihat batang hidungnya, atau karena karir yang tidak sesuai dengan eskspektasi, bisa jadi juga karena kita sering kali dihinakan oleh seseorang dengan beberapa sikap dan perkataan yang menjurus ke arah "Bullying", dan hal-hal lain yang terkadang membuat kita merasa nestapa. tapi tenang kawan, sebab hidup bukan sinetron ...

Mencari Keberkahan Waktu di Tengah Screen Time

Gambar
  Waktu adalah anugerah yang tak ternilai, namun banyak di antara kita yang terjebak dalam kesibukan tanpa keberkahan. Kita bekerja siang dan malam, mengejar dunia, tetapi sering lupa bahwa waktu juga harus diisi dengan ibadah, kebersamaan dengan keluarga, serta refleksi diri. Dalam Islam, waktu bukan hanya tentang produktivitas, tetapi juga keberkahan. Allah ﷻ telah memberikan peringatan yang sangat kuat dalam Surah Al-‘Asr: وَالْعَصْرِۙ ١ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍۙ ٢ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِۙ ٣ “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3) Surah ini mengajarkan bahwa waktu akan menjadi sumber kerugian kecuali jika kita mengisinya dengan keimanan, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran. Ini adalah Islamic Time Management System, cara ...

Fikih Komentar: Etika Berpendapat dalam Islam

Gambar
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Media sosial menjadi ruang publik baru yang menawarkan kebebasan berekspresi. Namun, di balik kemudahan ini, muncul tantangan etika dan tanggung jawab. Dalam konteks Islam, muncul pertanyaan penting: bagaimana fikih memandang perilaku menyampaikan pendapat di media sosial? Apakah semua bentuk ekspresi dapat dibenarkan? Artikel ini membahas etika bermedia sosial dalam perspektif fikih Islam serta pentingnya menjaga adab dan kehormatan saat mengutarakan pendapat di ruang digital. Kebebasan Berpendapat dalam Islam: Bukan Bebas Tanpa Batas Islam mengakui hak setiap individu untuk menyampaikan pendapat. Hal ini tercermin dalam berbagai ayat Alquran dan hadis, yang menekankan pentingnya amar makruf nahi munkar. Namun, kebebasan tersebut bukanlah tanpa batas. Kebebasan dalam Islam senantiasa dibingkai oleh prinsip tanggung jawab, akhlak, dan kemaslahatan umum. Menurut Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, kebebasan berpendapat...

Fenomena Riya' dan Pamer Ibadah di Dunia Maya

Gambar
pujian manusia? Membiasakan introspeksi diri sebelum memposting dapat membantu kita menjaga niat tetap murni. Penting juga untuk menumbuhkan kesadaran akan niat kita setiap kali berbagi aktivitas ibadah di dunia maya. Salah satu cara efektif adalah dengan memperkuat niat dan mengingatkan diri sendiri bahwa tujuan utama dari ibadah adalah mendapatkan keridhaan Allah, bukan pujian dari manusia. Dengan begitu, kita dapat menjaga keikhlasan dalam beribadah meski berada di era digital. Pandangan ulama mengenai fenomena riya digital juga penting untuk dipertimbangkan. Banyak ulama mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam mempublikasikan amal ibadah di media sosial. Mereka menekankan bahwa ikhlas adalah kunci utama agar amal diterima oleh Allah. Beberapa ulama bahkan menganjurkan untuk merahasiakan sebagian amal ibadah kita sebagai upaya untuk menghindari riya. Penting bagi kita untuk mengembalikan esensi ibadah yang murni hanya untuk Allah. Seberapapun canggihnya teknologi dan media sosial...

Menjaga Pandangan (Ghadul Bashar) di Balik Layar

Gambar
Mengapa Allah Perintahkan Ghadlul Bashar atau Jaga Pandangan? Perintah menjaga pandangan ditujukan kepada laki-laki dan perempuan. Tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa hukum ini hanya berlaku kepada salah satunya. Dalam surah An-Nur, Allah memerintah laki-laki dan perempuan untuk ghadlul bashar alias menjaga pandangan dari perkara-perkara yang diharamkan, di samping perintah untuk lebih tertutup kepada perempuan dalam urusan aurat, sebagaimana firman-Nya: قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ. وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ  “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetah...